SELAMAT DATANG DI BLOG PENJELAJAH ILMU, SEMOGA MENJADI AMAL....! >>>>>>> MAAF BLOG INI MASIH DALAM PERBAIKAN.......
Tampilkan postingan dengan label TULISAN ALI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TULISAN ALI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Oktober 2013

Hari Raya Idul Adha dan Puasa Arafah

 

Pada kesempatan kali ini saya coba searching dibantu mbah gugle akhirnya dapet jg sedikit pencerahan dan referensi tentang asal muasal hari Raya Idul Adha atau yang sering kita namakan hari Raya Kurban. Kali ini coba akan di cari tahu awal kisah diperintahkannya umat Islam untuk berkurban dan tentang puasa Arafah.

Kita mulai cerita dari kelahiran Nabi Ismail. Nabi Ismail merupakan putra dari Nabi Ibrahim dari istrinya yang bernama Siti Hajar. Pada saat itu Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah untuk diberikan keturunan yang baik, lalu Allah memberikan kabar gembira kepadanya bahwa doa itu akan segera dikabulkan. Ketika Ibrahim menetap di negeri Baitul Maqdis selama sepuluh tahun, Sarah berkata, ‘Sesungguhnya Tuhan telah menetapkan bahwa aku tidak akan bisa melahirkan. Oleh karena itu nikahilah pelayanku ini semoga Allah memberikan anak kepada kita melaluinya.
        Setelah Ibrahim menyetujui usul istrinya tersebut, maka ia menikahi hamba sahaya yang diberikan oleh raja mesir sebelumnya. Tak lama kemudian Hajar pun hamil. Malaikat memberitahukan bahwa ia akan melahirkan seorang anak laki-laki diberi nama Ismail. Setelah besar nanti ia akan dikenal seluruh masyarakat dan banyak membantu orang. Orang banyak pun akan membantunya. Kemudian ia juga akan menguasai seluruh negeri saudaranya. Maka Siti Hajar pun mengucapakan syukur atas hal tersebut.
         Ketika Siti Hajar melahirkan Ismail, kecemburuan Siti Sarah makin membara. Sarah meminta Ibrahim untuk menyingkirkan Hajar dari pandangannya. Maka dari itu dengan berat hati nabi Ibrahim membawa Hajar dan Ismail yang saat itu masih bayi keluar dari rumah dan berjalan hingga sampai di suatu tempat yang sekarang dikenal sebagai Kota Makkah.
       Setelah menemukan tempat tersebut, kemudian Nabi Ibrahim berniat meninggalkan mereka untuk kembali ke Negeri Syam. Namun Siti Hajar mencegahnya, tapi setelah mengetahui bahwa ini merupakan perintah Allah, maka Siti Hajar pun mengikhlas kepergian Ibrahim. Setelah cukup jauh berjalan, Nabi Ibrahim berhenti kemudian berbalik ke belakang seraya berdoa. Doa Nabi Ibrahim terdapat di dalam Al-Quran Surah Ibrahim: 37.
          Saat ditinggalkan Nabi Ibrahim, Siti Hajar tetap memberikan asi kepada Ismail, namun lama kelamaan bekal air mereka habis dan air susu Siti Hajar pun mengering. Karena tidak tega melihat anaknya yang gelisah karena haus, maka ia pun memutuskan pergi dari tempat itu. Lalu setelah lama berjalan sampailah mereka di bukit Shafa. Kemudian Siti Hajar memandang sekitar untuk mencari seseorang yang dapat membantunya, namun tak ada seorang pun di sana. Kemudian dia turun dari bukit itu sambil berlari-lari kecil menuju bukit Marwah, namun lagi-lagi ia tidak melihat siapapun di sana. Selanjutnya ia bolak-balik di kedua bukit itu dan melakukan hal yang sama. Rasulullah bersabda, ‘Itulah alasan disyariatkannya bersa’i antara kedua bukit itu’. (saat haji/umrah)
        Ketika Siti Hajar berada di atas bukit Marwah untuk ketujuh kalinya, ia mendengar ada suara yang memanggilnya. Dan setelah dicari darimana asal suara tersebut ternyata suara tersebut merupakan suara malaikat. Siti Hajar melihat malaikat tersebut menghentakkan kakinya hingga keluarlah mata air di tempat itu. Setelah melihat hal tersebut Siti Hajar pun segera menuju tempat tersebut. Ia menciduk air tersebut dan memasukkannya ke dalam kantong. Air tersebut segera diminum dan setelah itu Siti Hajar memberikan susu pada anaknya.
         Hajar menjalani kehidupannya dengan meminum air Zamzam. Hingga pada suatu hari ada sekelompok orang yang berasal dari Jurhum. Setelah mencari tahu bahwa daerah yang ditempati Siti Hajar terdapat air, maka kelompok tersebut meminta izin kepada Siti Hajar untuk menetap di sana. Siti Hajar pun senang atas kedatangan kelompok tersebut. Maka meneteplah kelompok Jurhum tersebut, hingga akhirnya kota Makkah semarak dengan keberadaan sejumlah keluarga di sana.
      Ismail pun bertambah besar dan mulai dewasa, maka ia dinikahkan dengan wanita dari kelompok Jurhum. Tak lama kemudian ibunda Ismail menghadap ke haribaan Allah.
       Setelah beberapa lama ibu Ismail meninggal akhirnya Ismail dapat bertemu kembali dengan ayahnya yaitu Nabi Ibrahim. Pada saat itu Nabi Ibrahim bermimpi dalam tidurnya seakan ia mendapatkan perintah untuk menyembelih Ismail. Hal tersebut merupakan ujian yang sangat berat, mengingat Ismail adalah putera yang sangat ia sayang dan mereka baru saja bertemu. Lalu nabi Ibrahim menyampaikan mimpinya kepada Ismail. Karena nabi Ismail adalah anak yang berbakti maka ia langsung mempersilahkan ayahnya untuk melakukan hal tersebut. Setelah keduanya sama-sama berserah diri, kemudian nabi Ibrahim merebahkan anaknya dengan pelipis menempel di tanah. Setelah nabi Ibrahim berusaha menggerakkan pisaunya di leher Ismail, Allah memanggilnya, “Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Kemudian anak itu diganti dengan seekor hewan sembelihan besar. Perintah menyembelih Ismail terdapat di surah Ash-Shaaffaat: 99-113.
         Dari sinilah kisah perintah berkurban dianjurkan kepada umat Islam untuk mengukur sampai di mana keataatan seorang hamba. Berkurban merupakan perintah langsung dari Allah swt, di mana Allah menguji kesabaran, keikhlasan dan ketaatan hamba-hamba-Nya agar mereka senantiasa menjadi hamba yang bersyukur.

PUASA ARAFAH



        Puasa Arafah adalah puasa yang  jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah. Puasa Arafah dinamakan demikian karena saat itu jamaah haji sedang wukuf di terik matahari di padang Arafah. Puasa Arafah ini dianjurkan bagi mereka yang tidak berhaji. Sedangkan yang berhaji tidak disyariatkan puasa ini.
 Mengenai hari Arofah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ
Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah hari Arofah. Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?” (HR. Muslim)
        Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Hari Arofah adalah hari pembebasan dari api neraka. Pada hari itu, Allah akan membebaskan siapa saja yang sedang wukuf di Arofah dan penduduk negeri kaum muslimin yang tidak melaksanakan wukuf. Oleh karena itu, hari setelah hari Arofah –yaitu hari Idul Adha- adalah hari ‘ied bagi kaum muslimin di seluruh dunia. Baik yang melaksanakan haji dan yang tidak melaksanakannya sama-sama akan mendapatkan pembebasan dari api neraka dan ampunan pada hari Arofah.” (Lathoif Al Ma’arif, 482)
        Mengenai keutamaan puasa Arafah disebutkan dalam hadits Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ
Puasa Arofah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim).
     Ini menunjukkan bahwa puasa Arafah adalah di antara jalan untuk mendapatkan pengampunan di hari Arafah. Hanya sehari puasa, bisa mendapatkan pengampunan dosa untuk dua tahun. Luar biasa fadhilahnya ...
      Hari Arafah pun merupakan waktu mustajabnya do’a sebagaimana disebutkan dalam hadits,
خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arofah. Dan sebaik-baik yang kuucapkan, begitu pula diucapkan oleh para Nabi sebelumku adalah ucapan “Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli sya-in qodiir (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Miliki-Nya segala kerajaan, segala pujian dan Allah yang menguasai segala sesuatu)”.” (HR. Tirmidzi, hasan)

Jadi, berkurban dan puasa arafah itu memiliki keutamaan begitu besar, makanya kita diperintahkan untuk menjalankannya. Untuk sahabat ku jangan lupa ya untuk berkurban dan puasa arafah, kalau belum mampu berkurban setidaknya puasa arafah dulu aja deh.
Sekian dulu yak,,,

No comments

Jumat, 16 Agustus 2013

Sebuah Ironi Janji Kemerdekaan yang terkhianati




Disaat kita menyambut hari kemerdekaan, ternyata kita sendiri belum merdeka dari sikap apatis terhadap negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan negara kita dan negara antar bangsa lain. Padahal jelas, pada pembukaan UUD 1945 disebut terus tiap hari senin (anak sekolah) dan tgl 17 (pns) dan 17 Agustus (hari kemerdekaan),
"Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan." (bait pertama pembukaan UUD 45).
Untuk apa kalimat-kalimat pembukaan itu dibaca terus jika nyatanya tidak bisa menjadi negara pelopor kemerdekaan, pelopor keadilan, dan memberikan sumbangsih bagi hidupnya perikemanusiaan yang adil dan beradab.

Keengganan kita untuk turut berbelasungkawa menunjukaan keegoisan dan kesombongan dimata dunia. Bait-bait kata yang menjadi pembuka dan aturan dasar negara di artikan hanya sebagai bagian aktivitas ceremony dan pelengkap tak ubahnya seperti hiasan seni yang melenakan. Begitukah...? Jika hidup kita telah di penuhi dengan rasa nyaman dan terlena dengan hiasan-hiasan buatan manusia maka wajar saja kalau kepedulian kita kepada sesama telah hilang. Kita melihat tapi tidak merasakan. kita mendengar tapi tidak merasakan dan kitapun menyentuh kepedulian itu tapi ternyata kita egois dan tidak peduli. Dihari menenangan kita, mana kemenangan itu?apakah hanya di wujudkan dengan gema takbir SEMALAM saja?

Setiap jeritan rakyat indonesia dan dunia seharusnya menjadi kerisauaan para pemimpin untuk benar-benar menjadi pemimpin yang selalu mendengar, selalu mengerti dan selalu memberi (bukan hanya prihatin) bantuan seperti apa yang di suarakan ketika meminta untuk dipilih (red.pemilu, demokrasi) oleh rakyat yang sekarang juga meminta untuk di layani. bukankah tujuan pemimpin adalah melayani?
jika tidak, turunlah saja, biarkan rakyat menjalankan pemerintah dengan produk hukumnya sendiri.

Ketika pemimpin sudah tak mendengar jeritan dan derita rakyat yang bukan hanya menjerit karena belum makan 3 hari atau menyuarakan tentang kesejahteraan yang perlu di tingkatkan atau mengingatkan tentang kejujuran para pemimpin tapi juga mengajak untuk menjadi bagian dari manusia yang peduli akan kemanusiaannya. Maka rakyat tak perlu repot-repot memilihnya pada pemilu selanjutnya dn teruslah jeritkan suara kita, karena itu yang bisa rakyat lakukan atas ketulian penguasa/pemimpin agar telinganya yang mungil mendengar kepanasan dan terbangun dari kelenaannya. Sabarlah wahai rakyat.

Tragedi kemanusiaan di Mesir, Palestina, Syiria, Burma, India, Afganistan adalah bentuk kebiadaban manusia zaman modern yang seharusnya menjadi perhatian dunia tapi ternyata dengan kemodernan manusia menjadi hilang kepeduliannya. kecanggihan teknologi menjadi bagian dari kebohongan konspirasi dunia yang memutar balikkan kebenaran. menjadikan kebiadaban manusia menjadi hal yang biasa saja dan menyihir manusia-manusia di dunia untuk percaya dan terarah mindset-nya.

Sudah saatnya kita tahu, mengerti, merasa dan bangkit sendiri (rakyat yang peduli) dan menyuarakan kepedulian kita, bukan hanya diam saja. ketidak mampuan kita secara fisik untuk menunjukan rasa empati tidak menghentikan kita untuk menunjukannya di media lain. Dan untuk itu, kepada masyarakat yang rasa kemanusiaannya belum tergantikan dengan semenit berita palsu berikanlah waktu dan tenaga kita untuk hari ini (16/08/2013), hari menjelang kemerdekaan bangsa kita untuk turun ke jalan menjeritkan keras-keras dan bersama-sama dengan suara yang sangat lantang kepada pemimpin kita, saudara kita dan kepada dunia bahwa kita bukanlah orang (rakyat yang merdeka) yang MENGHIANATI JANJI KEMERDEKAAN kita.

Allahuakbar....Allahuakbar...Allahuakbar.........*Gema Kemenangan
Salam Negarawan,,,,,,,,,,,,
Merdeka......
Merdeka......
Merdeka......
Merdeka......
Merdeka......
Merdeka......
Merdeka......
Merdeka......
Merdeka......
Merdeka......

Hidup Rakyat Indonesia,
Hidup Rakyat Dunia

No comments

Rabu, 07 Agustus 2013

RAMADHAN ADALAH BULAN LATIHAN


Ketika ramadhan hendak pergi, tentu kita merasa sedih karena bulan penuh berkah dan bonus akan segera berakhir. Perasaan itu tentu ada pada diri kita, tapi tenang saja bulan ramadhan kita anggap sebagai semangat awal untuk menjemput ramadhan selanjutnya..InsyAllah kita berdo’a untuk dipertemukan kembali. Jika pada ramadhan tahun ini belum maksimal dalam beribadah mendekatkan diri kita kepada Sang Raja kita Allah SWT, maka kita akan persiapkan mulai sekarang. Kita tetapkan posisi semangat kita setidaknya sama seperti ramadhan pada bulan-bulan selanjutnya. Sehingga pada bulan ramadhan tahun depan kita siap dan lebih maksimal targetan kita.
Anggap saja bulan ramadhan adalah bulan latihan. Kenapa?
Ada yang mengatakan bahwa pada saat bulan ramadhan syaitan, iblis dan konco-konconya akan di ikat dan tidak mengganggu manusia yang sedang puasa. Terus ada yang nanya, kenapa masih ada pencuri, perampok, pembunuh, pezina dan perbuatan-perbuatan melanggar lain yang masih saja dilakukan pada saat bulan ramadhan, padahal tidak ada yang menggoda kita?
Jawabannya adalah karena latihan menjadi terlatih. Pada bulan selain ramadhan syaitan melatih kita siang dan malam untuk berbuat dan membiasakan untuk lalai dan berbuat hal-hal yang dilarang Allah. Nah kalau sudah dilatih dan menjadi terlatih lama-lama menjadi fasih deh. Kebiasaan-kebiasaan dari latihan inilah yang membuat kita terus berbuat lalai kepada Allah sedikit demi sedikit dan kecil-kecilan sampai kita tidak tersadar. Dan jika sudah terlatih syaitan tidak perlu menggoda kita lagi bahkan tidak perlu memantau lagi. Itulah kenapa pada saat bulan ramadhan masih saja ada yang melakukan perbuatan syaitan.
Latihan bola kaki bisa menjadikan kita mahir bermain bola kaki, berlatih renang akan membuat kita mahir dalam berenang, berlatih menjadi ahli ibadah akan menbuat kita menjadi abid, dan berlatih begitupun juga berlatih untuk beribadah pada bulan ramadhan, maka harapannya juga akan menjadi manusia dengan amalan ramadhan pada bulan-bulan selanjutnya.
Jadi, ketika kita menganggap ramadhan adalah bulan latihan, maka 11 bulan selanjutnya kita akan mencoba menerapkan perilaku selayaknya bulan ramadhan. Kalau semua orang menerapkan metode dan semangat ramadhan pada bulan selain ramadhan, maka syaitan-syaitan akan pada pusing tu menggoda kita. Tapi yang menjadi pertanyaanya adalah seberapa fasihkah efek dari latihan yang kita buat pada bulan ramadhan yang hanya sebulan dengan latihan yang syaitan buat selama 11 bulan? Jawabannya hanya bisa kita pikirkan dan rasakan pada diri kita masing-masing. Karena saat kita ingin menerapkan semangat ramadhan itu tentu kita bisa mengukur kekuatan kita sendiri untuk menggempur godaan syaitan setiap harinya.
Latihan yang kita lakukan pada saat bulan ramadhan jika benar-benar kita lakukan dengan sungguh-sungguh pada saat ramadhan apalagi saat 10 hari terakhir bulan ramadhan akan memberi efek positif pada kita di bulan selanjutnya. Syaratnya adalah menstandarkan diri sendiri atas kemampuan ibadah-ibadah kita sehari-hari. Jika tidak bisa meningkat dari bulan ramadhan usahakan tetap terjaga amalan-amalan ramadhan kita. Sehingga memperkecil bahkan menghilangkan ruang syaitan untuk menggoda kita dari amalan-amalan kita.
Semoga kita termasuk manusia-manusia yang terlatih dari bulan ramadhan dan menjadikan diri kita hambaNya yang taat seperti saat kita berada pada bulan ramadhan yang tingkat ketaatannya melebihi bulan lain. Semoga ibadah ramadhan kita terjaga pada bulan-bulan selanjutnya sehingga predikat menjadi seorang yang muttaqien (bertaqwa) benar-benar kita raih pada bulan ramadhan ini dan bulan selanjutnya.
Akhirnya, semoga sedikit tulisan menjelang akhir ramadhan ini bisa memberi efek bagi diri saya sendiri dan jika ada hikmah dari tulisan ini silahkan diambil dan jika ada dosa mohon maaf dan ampun pada Allah SWT atas kelalaian dalam menulis dan merangkai kata-kata. Semoga Allah meridhoi segala urusan kita untuk mencapai derajat taqwa dimataNya.
Wallahu’alam bissawab,

28 Ramadhan 1434 Hijriyah
Ali Ariswanto


No comments

PESAN BULAN RAMADHAN UNTUK KITA



“Allahumma inna nas aluka ridhoka wal jannah, wa na’uzubika min syakhotika wannaar”
         “Allahumma innaka affuwhun kariem, tuhibbul afwa fa’fu anna,,ya kariem…”

Ramadhan tinggal sehari, ada yang sedih dan tak sedikit yang senang (bahagia). Sedih karena merasa amal ibadah selama ramadhan ini masih sangat sedikit dan belum tentu Allah akan mempertemukan kembali pada Ramadhan selanjutnya. Sedangkan yang gembira adalah karena merasa telah mencapai hari kemenangan (Idul fitri) dengan membawa banyak amalan-amalan yang telah di lakukan pada ramadhan ini. Tidak hanya itu, mungkin sebagian bereuforia karena mengartikan kemenangan sebagai arti yang kurang tepat. Kemenangan diartikan sebagai kebebasan, ya bebas, bebas dari puasa (makan & minum), bebas berbuat hal-hal yang dilarang pada saat ramadhan, dan yang paling disenangi dan dibangga-banggakan umumnya masyarakat indonesia atau bahkan masyarakat muslim di dunia biasanya bebas membeli ini dan itu (pakaian lebaran, kue lebaran, rumah & isinya untuk lebaran, kendaraan lebaran, dll). Lebaran diartikan sebagai bebas dari belenggu untuk berfoya-foya. Tidak ada salahnya sih membeli ini dan itu, mempersiapkan ini dan itu, karena itu mungkin bagian dari ibadah untuk menyenangkan tamu ketika lebaran esok, tapi jangan sampai berlebihan dan melupakan pesan ramadhan, mulai dari amalan sampai kebiasaan.
Allah tentu tidak menyukai hambaNya yang berprilaku boros dan lalai. Pesan ini disampaikan bulan ramadhan kepada seluruh umat manusia. Bulan Ramadhan mengajarkan kita untuk menSTOP segala tindakan boros dan lalai. Pada pembahasan kali ini akan coba kita analisis pesan ramadhan untuk kita yang sebentar lagi akan meninggalkan kita. Tentu sedih kan? Tapi jika kita mengerti akan pesan ramadhan ke ramadhan berikutnya kita akan terus tersenyum menghadapi bulan-bulan selanjutnya. Ramadhan mengajarkan kita untuk tidak boros dan lalai.
Firman Allah SWT :
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُواْ إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
            Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS. Al-Isro’: 27)
Kenapa tidak boleh boros?
Pertanyaan ini tentu bisa difahami secara umum bahwa sifat boros itu tidak baik. Pada bulan ramadhan kita di ajak untuk MENGURANGI bukan melarang segala macam makanan yang masuk dalam tubuh kita, salah satu tujuan secara fisik adalah untuk kesehatan. Semua orang juga sedah tahu bahwa secara medis puasa akan dapat membuat tubuh sehat, buktinya ketika seseorang hendak operasi biasanya di minta untuk berpuasa beberapa jam sebelum dilakukan pembedahan (operasi).
Firman Allah SWT :
وكُلُواْ وَاشْرَبُواْ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
            “Dan makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-‘Arof: 31)
Perut adalah sarang segala penyakit, dengan berpuasa kita akan menyeimbangkan pola makan kita dengan kemampuan metabolisme tubuh sehingga metabolisme tubuh dapat kembali normal. Pada bulan selain ramadhan pada umumnya kita banyak mengkonsumsi makanan yang berlebihan. Segala macam makanan biasanya masuk ke perut tanpa aturan dan takaran sehingga mengakibatkan lambung overload dan metabolisme terganggu. Mulai dari sinilah awal mulanya segala penyakit. Termasuk penyakit pusing kepala diakhir bulan karena mendadak terserang Kanker (kantong kering) disebabkan banyak pengeluaran hanya untuk makanan.
Dari segi makanan saja kita hitung deh berapa banyak konsumsi masyarakat Indonesia tiap harinya. Kalau biasanya dan umumnya kita makan 3 (tiga) kali sehari pada saat ramadhan menjadi 2 (dua) kali sehari atau bahkan masih sama saja (buka makan, habis taraweh makan, sahur makan). Yaa anggap aja iya deh. Tapi coba kalkulasikan konsumsi nasi (beras) pada hari biasanya dg pada bulan ramadhan.
Asumsi konsumsi beras (makanan pokok) masyarakat Indonesia perorang adalah 0,3 Kg/hari (102 Kg perkapita) dan jumlah penduduk sebanyak 200 juta jiwa. Maka konsumsi beras nasional mencapai 60,000 ton/hari.. Woow… Baanyak banget ya. Dan ternyata konsumsi masyarakat Indonesia kata pemerintah melebihi atau bahkan hampir dua kali lipat dari jumlah konsumsi rata-rata beras dunia yaitu 60 Kg/kapita.
Bulan ramadhan memberi berkah dan memberi solusi pangan bagi pemerintah. Dengan puasa secara langsung akan menurunkan angka konsumsi beras nasional yang berlebih, yang biasanya 0,3 kg perkapita coba turunkan aja menjadi 0,2 kg/kapita (anggapan makan dua kali @0,1 kg,,,udah banyak tu) maka bisa menghemat 29 kg/perkapita dari 102 kg menjadi 73 kg/kapita. Kalau saja kondisi konsumsi pada saat ramadhan ini dipertahankan sampai bulan-bulan selanjutnya tentu kondisi pangan nasional akan berbeda. Kita kalikan aja penghematannya dengan jumlah penduduk, maka akan menghemat 5,8 juta ton. Angka ini akan bisa menghidupi 29 juta masyarakat miskin di Negara lain seperti Kongo, Bangladeh, Palestina, Meksiko, Burundi, Liberia, Serbia, Eritria dan Negara miskin di Asia dan Afrika. Subhanallah. Asumsi penghematan ini sudah termasuk rakyat miskin di Indonesia  sendiri. Jika ini diterapkan Indonesia akan swasembada beras sepanjang tahun. Dan perut kita tidak akan dipegang terus oleh bangsa lain deh….
Hikmah ramadhan baru saja diambil dari butiran beras yang kita konsumsi, belum menghitung yang lain. Intinya selain ramadhan bisa memberi pertolongan yang adil bagi seluruh umat manusia sebagai efek/hikmah dari bulan penuh berkah yakni ramadhan tapi juga memberi pelajaran kepada kita untuk tidak boros. Pergunakan apa yag kita miliki dengan seperlunya, dengan kecukupan bukan berlebih-lebihan. Hal ini tentunya bisa memberi efek pula pada 11 bulan selanjutnya sehingga kita bisa menjadi manusia yang sehat baik secara fisik maupun financial (keuangan) karena banyak tabungan yang seharusnya kita gunakan untuk berboros-boros ria tapi bisa kita gunakan untuk masa depan atau membantu orang lain yang kurang mampu.
Boros adalah sifat yang dekat dengan syaitan. Bukan hanya dekat bahkan dalam hadits menyebutkan bahwa sifat boros ini adalah saudara syaitan. Dan syaitan itu selalu ingkar kepada Tuhannya, jika sudah ingkar sudah tentu akan mempegaruhi manusia untuk ingkar juga, karena itu adalah misinya syaitan. Sifat boros ini akan mengantarkan kita pada sifat ingkar syaitan dengan iming-iming kesenangan sesaat. Naah, pada saat kita kesenangan dengan iming-iming tadi kita akan sering lalai pada Allah, mulai dari perintahNya sampai pada laranganNya.
Jadi, ramadhan bisa dikatakan sebagai bulan latihan untuk kita yang mungkin belum terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan dan sifat-sifat yang di contohkan rasulallah dan bahkan di perintahkan Allah SWT seperti perintah zakat, sedekah dan tidak boros. Udah ada ayatnya tu tadi diatas. Secara makna umum saja sudah faham kan?
Ramadhan kali ini kita jadikan sebagai awal dari kebiasaan-kebiasaan baik untuk tidak boros dan menjaga diri dari kelalaian kita kepada Allah. Kita tetapkan posisi semangat kita seperti pada saat awal ramadhan atau ketika 10 hari terakhir ramadhan. Kita kencangkan ikat pinggang kita, menjaga ibadah-ibadah kita mulai dari ibadah wajib dan sunnah, tilawahnya di gencarkan, yang biasanya ketika ramadhan 2 juz/hari di kencangkan lagi menjadi 5 juz/hari pada bulan-bulan selanjutnya. Ketika bulan ramadhan Allah memberi banyakbonus pahala kita sangat gencar mengejarnya, tentu pada bulan yang tanpa bonus kita akan lebih gencar lagi melebihi bulan ramadhan ketika kita ingin menyamakan pahala atas amalan kita setara dengan bulan ramadhan. Seharusnya semangat itu yang harus kita miliki. Semangat melebihi ramadhan.
Semoga kita termasuk dalam golongan orang yang selalu menjaga diri kita dari sifat boros dan lalai. Sehingga kita menjadi hambaNya yang di cintai dan diberi pertolongan di saat kesusahan menimpa kita. Semoga bermanfaat dan memberi hikmah dari sedikit tulisan ini.
Wallahu’alam bissawab,

28 Ramadhan 1434 Hijriyah

Ali Ariswanto
No comments