SELAMAT DATANG DI BLOG PENJELAJAH ILMU, SEMOGA MENJADI AMAL....! >>>>>>> MAAF BLOG INI MASIH DALAM PERBAIKAN.......
Tampilkan postingan dengan label ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ISLAM. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Agustus 2013

RAMADHAN ADALAH BULAN LATIHAN


Ketika ramadhan hendak pergi, tentu kita merasa sedih karena bulan penuh berkah dan bonus akan segera berakhir. Perasaan itu tentu ada pada diri kita, tapi tenang saja bulan ramadhan kita anggap sebagai semangat awal untuk menjemput ramadhan selanjutnya..InsyAllah kita berdo’a untuk dipertemukan kembali. Jika pada ramadhan tahun ini belum maksimal dalam beribadah mendekatkan diri kita kepada Sang Raja kita Allah SWT, maka kita akan persiapkan mulai sekarang. Kita tetapkan posisi semangat kita setidaknya sama seperti ramadhan pada bulan-bulan selanjutnya. Sehingga pada bulan ramadhan tahun depan kita siap dan lebih maksimal targetan kita.
Anggap saja bulan ramadhan adalah bulan latihan. Kenapa?
Ada yang mengatakan bahwa pada saat bulan ramadhan syaitan, iblis dan konco-konconya akan di ikat dan tidak mengganggu manusia yang sedang puasa. Terus ada yang nanya, kenapa masih ada pencuri, perampok, pembunuh, pezina dan perbuatan-perbuatan melanggar lain yang masih saja dilakukan pada saat bulan ramadhan, padahal tidak ada yang menggoda kita?
Jawabannya adalah karena latihan menjadi terlatih. Pada bulan selain ramadhan syaitan melatih kita siang dan malam untuk berbuat dan membiasakan untuk lalai dan berbuat hal-hal yang dilarang Allah. Nah kalau sudah dilatih dan menjadi terlatih lama-lama menjadi fasih deh. Kebiasaan-kebiasaan dari latihan inilah yang membuat kita terus berbuat lalai kepada Allah sedikit demi sedikit dan kecil-kecilan sampai kita tidak tersadar. Dan jika sudah terlatih syaitan tidak perlu menggoda kita lagi bahkan tidak perlu memantau lagi. Itulah kenapa pada saat bulan ramadhan masih saja ada yang melakukan perbuatan syaitan.
Latihan bola kaki bisa menjadikan kita mahir bermain bola kaki, berlatih renang akan membuat kita mahir dalam berenang, berlatih menjadi ahli ibadah akan menbuat kita menjadi abid, dan berlatih begitupun juga berlatih untuk beribadah pada bulan ramadhan, maka harapannya juga akan menjadi manusia dengan amalan ramadhan pada bulan-bulan selanjutnya.
Jadi, ketika kita menganggap ramadhan adalah bulan latihan, maka 11 bulan selanjutnya kita akan mencoba menerapkan perilaku selayaknya bulan ramadhan. Kalau semua orang menerapkan metode dan semangat ramadhan pada bulan selain ramadhan, maka syaitan-syaitan akan pada pusing tu menggoda kita. Tapi yang menjadi pertanyaanya adalah seberapa fasihkah efek dari latihan yang kita buat pada bulan ramadhan yang hanya sebulan dengan latihan yang syaitan buat selama 11 bulan? Jawabannya hanya bisa kita pikirkan dan rasakan pada diri kita masing-masing. Karena saat kita ingin menerapkan semangat ramadhan itu tentu kita bisa mengukur kekuatan kita sendiri untuk menggempur godaan syaitan setiap harinya.
Latihan yang kita lakukan pada saat bulan ramadhan jika benar-benar kita lakukan dengan sungguh-sungguh pada saat ramadhan apalagi saat 10 hari terakhir bulan ramadhan akan memberi efek positif pada kita di bulan selanjutnya. Syaratnya adalah menstandarkan diri sendiri atas kemampuan ibadah-ibadah kita sehari-hari. Jika tidak bisa meningkat dari bulan ramadhan usahakan tetap terjaga amalan-amalan ramadhan kita. Sehingga memperkecil bahkan menghilangkan ruang syaitan untuk menggoda kita dari amalan-amalan kita.
Semoga kita termasuk manusia-manusia yang terlatih dari bulan ramadhan dan menjadikan diri kita hambaNya yang taat seperti saat kita berada pada bulan ramadhan yang tingkat ketaatannya melebihi bulan lain. Semoga ibadah ramadhan kita terjaga pada bulan-bulan selanjutnya sehingga predikat menjadi seorang yang muttaqien (bertaqwa) benar-benar kita raih pada bulan ramadhan ini dan bulan selanjutnya.
Akhirnya, semoga sedikit tulisan menjelang akhir ramadhan ini bisa memberi efek bagi diri saya sendiri dan jika ada hikmah dari tulisan ini silahkan diambil dan jika ada dosa mohon maaf dan ampun pada Allah SWT atas kelalaian dalam menulis dan merangkai kata-kata. Semoga Allah meridhoi segala urusan kita untuk mencapai derajat taqwa dimataNya.
Wallahu’alam bissawab,

28 Ramadhan 1434 Hijriyah
Ali Ariswanto


No comments

PESAN BULAN RAMADHAN UNTUK KITA



“Allahumma inna nas aluka ridhoka wal jannah, wa na’uzubika min syakhotika wannaar”
         “Allahumma innaka affuwhun kariem, tuhibbul afwa fa’fu anna,,ya kariem…”

Ramadhan tinggal sehari, ada yang sedih dan tak sedikit yang senang (bahagia). Sedih karena merasa amal ibadah selama ramadhan ini masih sangat sedikit dan belum tentu Allah akan mempertemukan kembali pada Ramadhan selanjutnya. Sedangkan yang gembira adalah karena merasa telah mencapai hari kemenangan (Idul fitri) dengan membawa banyak amalan-amalan yang telah di lakukan pada ramadhan ini. Tidak hanya itu, mungkin sebagian bereuforia karena mengartikan kemenangan sebagai arti yang kurang tepat. Kemenangan diartikan sebagai kebebasan, ya bebas, bebas dari puasa (makan & minum), bebas berbuat hal-hal yang dilarang pada saat ramadhan, dan yang paling disenangi dan dibangga-banggakan umumnya masyarakat indonesia atau bahkan masyarakat muslim di dunia biasanya bebas membeli ini dan itu (pakaian lebaran, kue lebaran, rumah & isinya untuk lebaran, kendaraan lebaran, dll). Lebaran diartikan sebagai bebas dari belenggu untuk berfoya-foya. Tidak ada salahnya sih membeli ini dan itu, mempersiapkan ini dan itu, karena itu mungkin bagian dari ibadah untuk menyenangkan tamu ketika lebaran esok, tapi jangan sampai berlebihan dan melupakan pesan ramadhan, mulai dari amalan sampai kebiasaan.
Allah tentu tidak menyukai hambaNya yang berprilaku boros dan lalai. Pesan ini disampaikan bulan ramadhan kepada seluruh umat manusia. Bulan Ramadhan mengajarkan kita untuk menSTOP segala tindakan boros dan lalai. Pada pembahasan kali ini akan coba kita analisis pesan ramadhan untuk kita yang sebentar lagi akan meninggalkan kita. Tentu sedih kan? Tapi jika kita mengerti akan pesan ramadhan ke ramadhan berikutnya kita akan terus tersenyum menghadapi bulan-bulan selanjutnya. Ramadhan mengajarkan kita untuk tidak boros dan lalai.
Firman Allah SWT :
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُواْ إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
            Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS. Al-Isro’: 27)
Kenapa tidak boleh boros?
Pertanyaan ini tentu bisa difahami secara umum bahwa sifat boros itu tidak baik. Pada bulan ramadhan kita di ajak untuk MENGURANGI bukan melarang segala macam makanan yang masuk dalam tubuh kita, salah satu tujuan secara fisik adalah untuk kesehatan. Semua orang juga sedah tahu bahwa secara medis puasa akan dapat membuat tubuh sehat, buktinya ketika seseorang hendak operasi biasanya di minta untuk berpuasa beberapa jam sebelum dilakukan pembedahan (operasi).
Firman Allah SWT :
وكُلُواْ وَاشْرَبُواْ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
            “Dan makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-‘Arof: 31)
Perut adalah sarang segala penyakit, dengan berpuasa kita akan menyeimbangkan pola makan kita dengan kemampuan metabolisme tubuh sehingga metabolisme tubuh dapat kembali normal. Pada bulan selain ramadhan pada umumnya kita banyak mengkonsumsi makanan yang berlebihan. Segala macam makanan biasanya masuk ke perut tanpa aturan dan takaran sehingga mengakibatkan lambung overload dan metabolisme terganggu. Mulai dari sinilah awal mulanya segala penyakit. Termasuk penyakit pusing kepala diakhir bulan karena mendadak terserang Kanker (kantong kering) disebabkan banyak pengeluaran hanya untuk makanan.
Dari segi makanan saja kita hitung deh berapa banyak konsumsi masyarakat Indonesia tiap harinya. Kalau biasanya dan umumnya kita makan 3 (tiga) kali sehari pada saat ramadhan menjadi 2 (dua) kali sehari atau bahkan masih sama saja (buka makan, habis taraweh makan, sahur makan). Yaa anggap aja iya deh. Tapi coba kalkulasikan konsumsi nasi (beras) pada hari biasanya dg pada bulan ramadhan.
Asumsi konsumsi beras (makanan pokok) masyarakat Indonesia perorang adalah 0,3 Kg/hari (102 Kg perkapita) dan jumlah penduduk sebanyak 200 juta jiwa. Maka konsumsi beras nasional mencapai 60,000 ton/hari.. Woow… Baanyak banget ya. Dan ternyata konsumsi masyarakat Indonesia kata pemerintah melebihi atau bahkan hampir dua kali lipat dari jumlah konsumsi rata-rata beras dunia yaitu 60 Kg/kapita.
Bulan ramadhan memberi berkah dan memberi solusi pangan bagi pemerintah. Dengan puasa secara langsung akan menurunkan angka konsumsi beras nasional yang berlebih, yang biasanya 0,3 kg perkapita coba turunkan aja menjadi 0,2 kg/kapita (anggapan makan dua kali @0,1 kg,,,udah banyak tu) maka bisa menghemat 29 kg/perkapita dari 102 kg menjadi 73 kg/kapita. Kalau saja kondisi konsumsi pada saat ramadhan ini dipertahankan sampai bulan-bulan selanjutnya tentu kondisi pangan nasional akan berbeda. Kita kalikan aja penghematannya dengan jumlah penduduk, maka akan menghemat 5,8 juta ton. Angka ini akan bisa menghidupi 29 juta masyarakat miskin di Negara lain seperti Kongo, Bangladeh, Palestina, Meksiko, Burundi, Liberia, Serbia, Eritria dan Negara miskin di Asia dan Afrika. Subhanallah. Asumsi penghematan ini sudah termasuk rakyat miskin di Indonesia  sendiri. Jika ini diterapkan Indonesia akan swasembada beras sepanjang tahun. Dan perut kita tidak akan dipegang terus oleh bangsa lain deh….
Hikmah ramadhan baru saja diambil dari butiran beras yang kita konsumsi, belum menghitung yang lain. Intinya selain ramadhan bisa memberi pertolongan yang adil bagi seluruh umat manusia sebagai efek/hikmah dari bulan penuh berkah yakni ramadhan tapi juga memberi pelajaran kepada kita untuk tidak boros. Pergunakan apa yag kita miliki dengan seperlunya, dengan kecukupan bukan berlebih-lebihan. Hal ini tentunya bisa memberi efek pula pada 11 bulan selanjutnya sehingga kita bisa menjadi manusia yang sehat baik secara fisik maupun financial (keuangan) karena banyak tabungan yang seharusnya kita gunakan untuk berboros-boros ria tapi bisa kita gunakan untuk masa depan atau membantu orang lain yang kurang mampu.
Boros adalah sifat yang dekat dengan syaitan. Bukan hanya dekat bahkan dalam hadits menyebutkan bahwa sifat boros ini adalah saudara syaitan. Dan syaitan itu selalu ingkar kepada Tuhannya, jika sudah ingkar sudah tentu akan mempegaruhi manusia untuk ingkar juga, karena itu adalah misinya syaitan. Sifat boros ini akan mengantarkan kita pada sifat ingkar syaitan dengan iming-iming kesenangan sesaat. Naah, pada saat kita kesenangan dengan iming-iming tadi kita akan sering lalai pada Allah, mulai dari perintahNya sampai pada laranganNya.
Jadi, ramadhan bisa dikatakan sebagai bulan latihan untuk kita yang mungkin belum terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan dan sifat-sifat yang di contohkan rasulallah dan bahkan di perintahkan Allah SWT seperti perintah zakat, sedekah dan tidak boros. Udah ada ayatnya tu tadi diatas. Secara makna umum saja sudah faham kan?
Ramadhan kali ini kita jadikan sebagai awal dari kebiasaan-kebiasaan baik untuk tidak boros dan menjaga diri dari kelalaian kita kepada Allah. Kita tetapkan posisi semangat kita seperti pada saat awal ramadhan atau ketika 10 hari terakhir ramadhan. Kita kencangkan ikat pinggang kita, menjaga ibadah-ibadah kita mulai dari ibadah wajib dan sunnah, tilawahnya di gencarkan, yang biasanya ketika ramadhan 2 juz/hari di kencangkan lagi menjadi 5 juz/hari pada bulan-bulan selanjutnya. Ketika bulan ramadhan Allah memberi banyakbonus pahala kita sangat gencar mengejarnya, tentu pada bulan yang tanpa bonus kita akan lebih gencar lagi melebihi bulan ramadhan ketika kita ingin menyamakan pahala atas amalan kita setara dengan bulan ramadhan. Seharusnya semangat itu yang harus kita miliki. Semangat melebihi ramadhan.
Semoga kita termasuk dalam golongan orang yang selalu menjaga diri kita dari sifat boros dan lalai. Sehingga kita menjadi hambaNya yang di cintai dan diberi pertolongan di saat kesusahan menimpa kita. Semoga bermanfaat dan memberi hikmah dari sedikit tulisan ini.
Wallahu’alam bissawab,

28 Ramadhan 1434 Hijriyah

Ali Ariswanto
No comments

Sabtu, 23 Februari 2013

Dakwah, Be Yourself!


Berdakwah tidak membuat kita menjadi orang lain. Beberapa orang berpikir bahwa dengan aktivitas dakwah yang mulia, masyarakat akan menuntut kita memiliki kelebihan dalam segala hal. Harus lebih baik, lebih kuat, lebih tabah, lebih sabar, dan sebagainya. Media massa bahkan tidak jarang menggambarkan para da’i sebagai orang hebat yang kemampuannya bisa mengalahkan sihir, seakan dakwah pada abad ini masih saja berkutat dengan sihir seperti zaman Nabi Musa alaihis sallam.
Ini adalah pemikiran yang salah. Berdakwah sama sekali tidak memaksa kita menjadi superhero. Berdakwah justru membuat kita menjadi diri sendiri, pribadi yang fithrah, pribadi yang original dengan segala kelebihan dan kelemahannya, sesuai kehendak Yang Menciptakan kita.
Untuk membahas topik ini dengan sederhana berdasarkan nash-nash yang mulia, marilah kita mulai dengan pembahasan tentang fithrah, model awal penciptaan manusia.
Nabi Muhammad shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Setiap manusia dilahirkan atas sebuah fithrah. Orang tuanyalah yang kemudian menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR Bukhari)
Dari hadits di atas, kita memperoleh pelajaran tentang beberapa hal:
Manusia Diciptakan Dalam Sebuah Model Khusus yaituFithrah
Apabila setiap produk elektronik memiliki spesifikasi yang khas, begitu juga manusia diciptakan dengan model yang sangat unik dan khas bernama fithrah. Pada era membanjirnya barang-barang produksi Cina saat ini, kita melihat bahwa “barang Cina” sangat mirip dan kadang hanya kurang satu atau dua fitur dari produk yang ditirunya, tetapi nilainya tetap rendah dan kualitasnya tidak jarang sangat buruk. Dalam hadits di atas, Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam memberitahu kita bahwa kita dilahirkan sebagai produk asli yang unik, khas dan suci, yaitu dalam fithrah. Selama kita menjaga keaslian, nilai dan kualitas kita juga akan selalu terjaga dalam ketinggiannya.
Orang Tua dan Lingkungan akan Memberi Warna
Orang tua, yang juga bisa dimaknai secara luas sebagai orang-orang dewasa dan lingkungan sekitar, kemudian menentukan apakah kita tumbuh tetap dalam fithrah, atau keluar dari fithrahdengan menjadi penganut Yahudi, Kristiani, atau penyembah api. Penyebutan Majusi (agama penyembah api di Persia pada masa Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam) merupakan penunjukan kepada semua agama selain agama samawi, baik penyembahan kepada ruh, dewa-dewi, kekuatan mistik maupun ritual, dan pensakralan benda-benda tertentu.
Fithrah itu Adalah Islam
Beberapa orang sempat bertanya tentang hadits yang kita jadikan pokok bahasan ini: “Mengapa yang disebut hanya Yahudi, Nasrani dan Majusi? Mengapa hadits ini tidak menyebut Islam?”
Jawabnya, demikianlah Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam memberi petunjuk bahwa makna fithrah itu adalah Islam. Setiap bayi dilahirkan dalam kondisi Islam, dalam tahap-tahap pertumbuhannya barulah orang tuanya membentuk untuk tetap dalam fithrah atau menyimpang darinya.
Agar manusia tetap tumbuh sesuai fithrah, ia harus menjadi muslim yang melaksanakan agamanya dengan komitmen, sebagaimana firman Allah dalam Al Quran:
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama yang lurus. (Tetaplah atas) fithrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fithrah itu. Tidak ada peubahan pada fithrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS Ar Ruum: 30)
Fithrah yang Tidak Dirawat
Setiap manusia diciptakan sebagai makhluk yang fithri, memiliki keaslian jati diri 100%. Dalam perjalanan hidupnya, ia mungkin mengadopsi ajaran agama, norma-norma, tradisi atau kebiasaan sekitarnya yang tidak sesuai dengan fithrahnya. Lalu pelan-pelan, fithrah itu semakin samar dan pudar…
Ketika penulis sedang memikirkan artikel ini, televisi menyiarkan sosok Kurt Donald Cobain, pentolanNirvana, sang perintis musik grunge. Sebagai pribadi beliau layak menjadi contoh fithrah yang tergilas, terbelah-belah, lalu hancur dengan akhir yang sangat mengenaskan: bunuh diri. Sebelum bunuh diri, sekian lama ia hidup dengan ketergantungan pada narkoba.
Saya pribadi menghormati setiap karyanya yang berhasil mengekspresikan jiwa kritis dan protes-protesnya secara mendalam, tetapi kita bisa mengatakan bahwa pencapaian luar biasa seorang Kurt Cobain hanyalah contoh pencapaian luar biasa di jalan yang keliru. Meski fantastis, hebat dan luar biasa, pencapaian-pencapaian tersebut tidak memberinya kepuasan, kebahagiaan, apalagi penemuan jati diri (fithrah) yang menenteramkan. Na’uudzubillaahi min dzaalik.[1]
Dakwah adalah Pemelihara Keaslian Fithrah
Karena di dunia ini manusia diberi musuh yang luar biasa berupa pembajak fithrah yang sangat berpengalaman yaitu syaithan, setiap manusia harus saling bekerja sama dalam memelihara fithrah. Tidak ada pribadi yang bisa menyelamatkan keaslian fithrahnya dari bajakan syaithan jika ia menyendiri dan tidak terlibat dalam dakwah. Allah berfirman tentang orang-orang yang selamat:
“… orang-orang yang beriman, beramal shalih, senantiasa saling menasihati dalam kebenaran dan senantiasa saling menasihati dalam kesabaran…” (QS Al ‘Ashr: 3)
Bentuk kerja sama yang bisa dilakukan adalah:
a. Saling mendoakan kebaikan dan saling mengingkari kemungkaran. Ini adalah bentuk dakwah dengan hati, bentuk paling mendasar dari dakwah. Sebagai contoh, ada seorang teman kita yang gemar melakukan kemaksiatan tetapi kita belum berani menegurnya. Kita kemudian berusaha menghindarinya ketika ia dalam kemaksiatan tersebut. Ketika ia tidak dalam kemaksiatan, kita tetap menjadi teman baiknya. Pengingkaran kita dalam bentuk menghindar ini mudah-mudahan membuatnya menyadari bahwa kita tidak menyukai apa yang ia lakukan, lalu ia berhenti darinya.
b. Saling mengingatkan kebaikan dan saling melarang kemungkaran. Ini adalah bentuk dakwah dengan lisan, tingkat kedua dalam dakwah. Contoh tentang ini tidak perlu diuraikan karena kebanyakan orang memahami dakwah sebagai dakwah dengan lisan ini.
c. Saling membantu dalam kebaikan dan saling mencegah tentang kemungkaran. Ini adalah tingkat tertinggi, yaitu dakwah dengan tangan, tindakan dan jika perlu: kekuatan dan kekuasaan.
Perlukah Dakwah dengan Tangan?
Beberapa orang menanyakan, jika dakwah adalah memanggil kesadaran manusia, mengapa ada kewajiban berdakwah dengan tangan, dengan kekuatan, atau dengan kekuasaan? Bukankah ini bentuk pemaksaan yang justru akan mencegah seseorang dari memperoleh kesadaran secararidha; secara sukarela?
Jawabannya, dakwah dengan tangan ini tetap diperlukan karena manusia memiliki kelemahan dalam kemauan dan konsistensi. Apabila mengandalkan kesadaran dan kerelaan hati, anak-anak mungkin akan mendirikan shalat sesuka hati mereka. Oleh karena itu, Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallammenganjurkan untuk memukul anak-anak yang malas mendirikan shalat ketika mereka telah cukup umur.
Contoh lainnya, masyarakat mungkin akan cenderung kepada minuman keras atau kebebasan seksual jika tidak ada institusi yang tegas melarang dan memberi sanksi. Sanksi yang tegas ini memaksa mereka berhenti atau hanya melakukan dengan sangat tersembunyi. Ketegasan sanksi ini mencegah kerusakannya menyebar dengan cepat.
Jangan Menjadi Orang Lain…
Fithrah setiap manusia adalah unik. Meskipun semua manusia dilahirkan dalam kondisi fithrah, Allah tidak menciptakan kita sebagai makhluk yang seragam. Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan, mirip potongan-potongan puzzle yang memiliki sisi menonjol dan sisi berlubang. Apabila kita memaksa diri menjadi orang lain, beberapa sisi kita akan berubah sehingga kita tidak bisa bersama-sama membangun sebuah masyarakat Islami sebagaimana kehendak Allah.
Beberapa orang memandang gurunya, mentornya, pengasuhnya, atau tokoh idamannya sebagai manusia terbaik lalu mencontohnya habis-habisan sehingga ia menjadi ‘orang  lain’. Beberapa orang lagi berpandangan bahwa da’i harus menjadi contoh dalam segala hal sehingga memaksakan diri selalu tampil baik di hadapan manusia. Kedua hal ini sama-sama pemaksaan diri yang tidak diperlukan dalam pembangunan masyarakat Islam.
Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang terjaga (ma’shum), tetapi beliau juga pernah khilaf sehingga ditegur langsung oleh Allah di hadapan para shahabat. Misalnya dalam Al Quran surat ‘Abasa. Para sahabat adalah manusia-manusia terpilih, tetapi ‘Umar radhiallahu anhujuga pernah ragu ketika menghadapi pembelot yang tidak mau membayar zakat pada masa pemerintahan Abu Bakar, dan beliau tidak segan mengakui keraguannya tersebut.
Demikian juga kita semua adalah manusia yang memiliki kelebihan dan kekurangan, tidak perlu tampil pura-pura di hadapan siapa pun. Dalam dakwah kita justru harus melatih keikhlasan dan ketulusan, sehingga selalu bersikap jujur dan terbuka. Da’i memang menjadi contoh, tetapi bukan karena ia selalu benar. Da’i adalah contoh pembela kebenaran yang konsisten, sekaligus contoh orang yang cepat bertaubat ketika tergelincir dari kebenaran tersebut. Be yourself, be fithrah! Be a good muslim, be da’i!
___________________________________________________________
[1] Dalam Islam kita dianjurkan berlindung kepada Allah dari hal-hal buruk ketika mendengar atau menyaksikan hal tersebut, dengan membaca “na’uudzubillaahi min dzaalik yang berarti “kami berlindung kepada Allah dari hal-hal demikian.”

No comments

Membangun Semangat Menghafal


Satiap kita, ketika ingin mengerjakan suatu aktifitas, pasti sebelumnya sudah mengetahui akan nilai atau keuntungan yang akan diperoleh setelah melakukannya. Oleh karenanya, ….

Rasulullah SAW selalu membuat semangat siapapun yang mendengar akan nasihat yang telah disampaikan beliau kepada para sahabatnya. Dalam hal ini adalah yang berkaitan dengan pertanyaan anda tentang gairah menghafal Al-Quran atau lebih tepatnya adalah membangun motivasi untuk bisa, giat dan gemar menghafal Al-Quran. Baik untuk diri sendiri atau pun untuk orang lain.

Diantara nasihat beliau tersebut adalah : 
“sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar dan mengajarkan Al-Quran”.

“Orang yang mahir membaca Al-Quran akan bersama para utusan yang mulai, dan orang yang membaca Al-Quran dengan terbata-bata dan dia merasakan kesulitan, makan baginya dua pahala". Yaitu pahala membaca dan pahala karena kesulitannya saat membaca, dan ini hanya ada saat orang membaca Al-Quran, oleh karena para sahabat RA memiliki perhatian yang begitu besar terhadap pembelajaran Al-Quran, sehingga mereka gemar dan rajin belajar dari Rasulullah SAW dan kemudian mengajarkannya kepada orang lain.

Banyak kaum muslimin, khususnya para du’at atau orang terlibat dalam aktifitas dakwah, mereka sudah paham benar urgensi mempelajari Al-Quran secara mendalam, lebih khusus lagi menghafal Al-Quran, betapa mulianya kedudukan mereka di sis Allah SWT. Namun tidak sedikit dari mereka terjebak pada sikap menunda-nunda pekerjaan yang sangat mulia di sisi Allah ini, bahkan banyak ide-ide cemerlang yang terlintas dalam benak, namun hilang begitu saja karena sikap penundaan tersebut. Diantara sebab penundaan dalam menghafal adalah :

1-      Merasa bahwa menghafal itu adalah pekerjaan susah dan menjenuhkan.
2-      Bacaan Al-Quran yang belum standar tingkat kefasihannya.
3-      Belum saatnya untuk menghafal.
4-      Saat mau menghafal kondisi badan kurang baik.
5-      Sudah banyak orang yang menghafal Al-Quran.
6-      Tidak tau dari mana mulai menghafal.
7-      Saat ini belum ada keinginan untuk menghafal.
8-      Saat ini banyak sekali kesibukan.
9-      Sedang dead line dengan tugas-tugas kuliah atau kantor dll.
10-    Saat ini waktunya kurang tepat untuk menghafal.
11-    Acara televisi dengan tema yang hangat saat ini.

Demikian, barangkali yang kita sebutkan adalah sebagian kecil kenapa diantara kita masih menunda-nunda menghafal Al-Quran dengan ribuan lembar alasan yang sudah kita siapkan di saku kita untuk pegangan agar menjadi alasan tidak mau menghafal Al-Quran.

Oleh karena, diantara yang harus dilakukan oleh orang yang sudah punya azam kuat untuk menghafal adalah :
1-      Harus merubah sifat menunda untuk menghafal Al-Quran.
2-      Buat rencana dan target-target tertentu.
3-      Jangan takut gagal, yang diperlukan adalah mencoba dan proses harus tetap dijalankan.
4-      Tinggalkan sifat riya dan sum’ah, lawan bisikan setan di dada kita.
5-       Mengalahkan rasa takut adalah bagian dari kesuksesan, seperti takut lupa dan merasa riya setelah hafal al-quran.
6-      Tingkatkan kadar ketakwaan agar Allah selalu membimbing dan mengajarkan yang terbaik.
7-      Yakin, bahwa menghafal Al-Quran itu mudah sebagaimana penegasan Allah dalam Al-Quran.
8-      Tawakkal kepada Allah, ikhlaskan niat hanya untuknya dan yakin bahwa Allah akan memberikan kemudahan untuk bisa menghafal kitab-Nya.

Semoga terus semangat untuk menghafal Al-Quran...


Sumber : http://muntadaquran.net/1433/arsip/tahfizh/1364-membangun-gairah-menghafal.html
No comments

Our Ideology


MENIMBANG IDEOLOGI
Dengan Nalar dan Fitrah Kemanusiaan
Oleh: Arief B. Iskandar


Pengantar
Secara fitrah, manusia adalah makhluk yang serba terbatas (relativismus uber alles). Keserbaterbatasan manusia ini telah cukup mengantarkan manusia pada situasi dimana ia senantiasa membutuhkan—dan bergantung pada—Zat Yang Tak Terbatas alias Yang Mahamutlak (Absolutismus uber alles); Dialah Tuhan sebagaiThe Ultimate Reality (Realitas Tertinggi, Wâjib al-Wujûd); Dialah Allah Swt. 
Secara fitrah pula, manusia dianugerahi oleh Allah Swt. naluri untuk beragama atau religiusitas (gharîzah at-tadayyun), yang merupakan sesuatu yang sudahbuilt-in dalam dirinya, bahkan sejak sebelum kelahirannya ke alam dunia. Naluri ini telah cukup mendorong manusia untuk melakukan pemujaan terhadap apa yang dianggapnya sebagai The Ultimate Reality (Realitas Tertinggi) itu.
Sayang, dua kenyataan primordial (fitri) ini tidak serta-merta menjadikan manusia "tahu diri"; entah karena mereka tidak berpikir rasional (tidak menggunakan akal) atau karena mereka terlalu percaya diri akibat hegemoni hawa nafsu yang ada dalam dirinya. Pada saat ini, ketidaktahudirian manusia itu tercermin dalam dua sikap: (1) Pengingkaran secara total (sepenuh hati) terhadap eksistensi Tuhan sang Pencipta (ateisme). Ini tergambar pada manusia yang berpaham materialisme. Materialisme ini kemudian menjadi dasar pijakan ideologi Sosialisme-komunis. (2) Pengingkaran secara "setengah hati" terhadap eksistensi Tuhan. Ini tergambar pada manusia yang berpaham sekularisme, yakni yang mengakui keberadaan Tuhan, tetapi tidak otoritas-Nya untuk mengatur manusia, karena yang dianggap punya otoritas untuk mengatur manusia adalah manusia sendiri. Sekularisme ini kemudian menjadi landasan ideologi Kapitalisme-sekular.
Padahal, alhamdulillah, dengan kasih-sayang-Nya, Allah Swt. telah lama—jauh sebelum kelahiran ideologi Sosialisme-komunis dan Kapitalisme-sekular—menurunkan wahyu-Nya kepada manusia untuk membimbing manusia kembali pada fitrahnya, kembali pada jatidirinya yang asli, yakni sebagai makhluk yang serba terbatas dan memiliki—secara built-in—religiusitas dalam dirinya. Wahyu itu tidak lain adalah Islam, yang akidahnya mengajari manusia untuk meyakini secara total dan sepenuh hati eksistensi Tuhan sekaligus otoritas-Nya untuk mengatur kehidupan manusia. Akidah inilah yang kemudian menjadi basis ideologi Islam sebagai satu-satunya ideologi yang rasional dan sesuai dengan fitrah manusia.
Tulisan berikut tidak lain ingin membuktikan kembali "klaim" di atas—yakni bahwa hanya Islamlah satu-satunya ideologi rasional dan sesuai dengan fitrah manusia—dengan cara membandingkan ketiga ideologi di atas, yakni Sosialisme-komunis, Kapitalisme-sekular, dan Islam; melalui perspektif yang paling mendasar: akidah.

Realitas Ideologi
Secara umum, ideologi (Arab: mabda') adalah pemikiran paling asasi yang melahirkan—sekaligus menjadi landasan bagi—pemikiran-pemikiran lain yang menjadi turunannya. (M. Muhammad Ismail, 1958). Pemikiran mendasar dari ideologi ini dapat disebut sebagai akidah ('aqîdah), yang dalam konteks modern terdiri dari: (1) materialisme; (2)  sekularisme; (3) Islam. Akidah ini berisi pemikiran mondial dan global mengenai manusia, alam semesta, dan kehidupan dunia; tentang apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia; berikut kerterkaitan ketiganya dengan kehidupan sebelum dan setelah dunia ini. (M. Husain Abdullah, 1990). Akidah ini kemudian melahirkan pemikiran-pemikiran cabang yang berisi seperangkat aturan (nizhâm) untuk mengatur sekaligus mengelola kehidupan manusia dalam berbagai aspeknya—politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dan sebagainya. Akidah dan seluruh cabang pemikiran yang lahir dari akidah itulah yang disebut dengan ideologi. Dengan ungkapan yang lebih spesifik, ideologi (mabda') dapat didefinisikan sebagai keyakinan rasional (yang bersifat mendasar,pen.) yang melahirkan sistem atau seperangkat peraturan tentang kehidupan (An-Nabhani, 1953: 22).
Pada kenyataannya, di dunia saat ini hanya ada tiga ideologi: (1) Sosialisme-komunis, yang lahir dari akidah materialisme; (2) Kapitalisme-sekular, yang lahir dari akidah sekularisme; (3) Islam, yang lahir dari akidah Islam.

Realitas Akidah Materialisme, Sekularisme, dan Islam

1.      Materialisme.
Materialisme adalah akidah yang memandang bahwa alam semesta, manusia, dan kehidupan merupakan materi belaka; materi ini mengalami evolusi dengan sendirinya secara subtansial sehingga tidak ada Pencipta (Khalik) dan yang dicipta (makhluk). Dalam perspektif  Karl Marx, peletak dasar ideologi Sosialisme-komunis, alam mengalami evolusi mengikuti hukum gerak materi; alam tidak membutuhkan Akal Holistik (Pencipta) (Ghanim Abduh, 2003: 3). Senada dengan Marx, Lenin, ideolog sekaligus realisator Marxisme, dengan mengutip filosof Heraclitus (540-480 SM), menyatakan, "Alam adalah wujud tunggal yang tidak pernah diciptakan oleh Tuhan atau manusia manapun. Ia telah ada, selalu ada, dan akan selalu ada sebagai api yang terus menyala selama-lamanya." (Vladimir Ilich, 1870-1924). 
Oleh karena itu, penganut akidah materialisme pada dasarnya adalah ateis (mengingkari Tuhan). Bahkan, penganut akidah ini memandang bahwa keyakinan terhadap Tuhan (agama) adalah berbahaya bagi kehidupan. Dalam bahasa Lenin, keyakinan terhadap agama adalah "candu" masyarakat dan "minuman keras" spiritual. Dalam manifesto politiknya, Lenin secara ekstrem menyebut agama sebagai salah satu bentuk penindasan spiritual yang, dimana pun ia berada, amat membebani masyarakat (Lenin, 1972:  83-87).
Pengingkaran terhadap eksistensi Tuhan ini kemudian melahirkan sebuah keyakinan, bahwa dunia ini harus diatur berdasarkan prinsip dialektika materialisme yang melibatkan semua unsur materi, yakni: manusia, alam, dan sarana kehidupan (alat-alat produksi). Dari sini muncullah ideologi Sosialisme-komunis, yang didasarkan pada akidah materialisme, yang berisi seperangkat aturan yang khas, yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia; tentu di luar aspek religiusitas dan spiritualitas manusia yang telah diingkarinya.

2.      Sekularisme.
Sekularisme pada dasarnya adalah akidah yang mengakui eksistensi Tuhan, tetapi tidak otoritas-Nya untuk mengatur manusia. Dengan kata lain, akidah ini mengakui keberadaan agama tetapi tidak otoritasnya untuk mengatur kehidupan. Singkatnya, sekularisme adalah akidah yang menetralkan (baca: memisahkan) agama dari kehidupan.
Secara historis, sekularisme merupakan akidah "jalan tengah" yang lahir pada Abad Pertengahan, sebagai bentuk kompromi para pemuka agama yang menghendaki kehidupan manusia harus tunduk pada otoritas mereka (dengan mengatasnamakan agama), dengan  para filosof dan cendekiawan yang menolak otoritas agama dan dominasi para pemuka agama dalam kehidupan. Dengan demikian, para penganut sekularisme sebetulnya tidak mengingkari Tuhan (agama) secara mutlak; mereka hanya menginginkan agar Tuhan (agama) tidak mengatur kehidupan mereka.
Pengingkaran terhadap otoritas Tuhan ini selanjutnya melahirkan sebuah pandangan bahwa manusialah—melalui mekanisme demokrasi—yang berwenang secara mutlak untuk mengatur kehidupannya sendiri secara bebas, tanpa campur tangan Tuhan (agama). Dari sini lahirlah ideologi Kapitalisme-sekular, yang berisi seperangkat aturan yang khas, yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia;  tentu di luar aspek agama yang telah mereka singkirkan dari kehidupan.
           
3.      Islam.
Islam adalah akidah yang meyakini eksistensi Tuhan sebagai Pencipta alam, manusia, dan kehidupan ini; sekaligus mengakui bahwa Dialah satu-satunya yang memiliki otoritas untuk mengatur kehidupan manusia. Singkatnya, akidah Islam mengajari manusia tentang keyakinan dan kepasrahan total kepada Tuhan sang Pencipta, yakni Allah Swt.
Keyakinan terhadap eksistensi sekaligus otoritas Tuhan inilah yang kemudian melahirkan keyakinan bahwa Tuhanlah satu-satunya Yang mutlak dan berhak membuat hukum, sementara manusia hanya sekadar pelaksananya saja. Dari sini lahirlah ideologi Islam, yang juga berisi seperangkat aturan dalam berbagai aspek kehidupan manusia; termasuk yang menyangkut aspek religiusitas dan spiritualitas manusia, atau yang menyangkut agama.

Menimbang Ideologi Sosialisme-komunis, Kapitalisme-sekular, dan Islam
Dari paparan di atas, manakah akidah/ideologi yang masuk akal (rasional) dan sesuai dengan fitrah manusia? Jawabannya adalah sebagai berikut:

1.      Sosialisme-komunis.
Dalam perspektif rasio, dengan mengingkari eksistensi sang Pencipta, ideologi ini jelas tidak rasional. Alasannya: (a) Seluruh materi yang ada di dunia ini, termasuk manusia, memiliki keterbatasan dan bergantung pada yang lain. Akal kita yang jujur akan mengakui, bahwa segala yang terbatas ini pasti membutuhkan Zat Yang Tak Terbatas. Itulah Pencipta, Tuhan. (b) Manusia dan alam semesta memiliki keseimbangan, keteraturan, harmoni, dan keindahan yang luar biasa; yang semua itu tidak mungkin terjadi serba kebetulan tanpa ada Zat Yang menciptakan dan mengendalikannya.
Adapun secara fitrah, ideologi ini jelas bertentangan dengan kenyataan bahwa dalam diri manusia ada naluri beragama (religiusitas), yang mendorongnya selalu cenderung untuk melakukan pengagungan/pemujaan kepada Zat Yang lebih tinggi dari dirinya; baik mereka akui atau tidak; baik yang mereka agungkan itu Tuhan Yang sebenarnya atau "Tuhan" palsu. Pada faktanya, orang-orang ateis hanya mengalihkan pengagungan itu—yang seharusnya kepada Tuhan—menjadi kepada manusia.

2.      Kapitalisme-sekular.
Dalam tinjauan nalar, pengakuan terhadap eksistensi Tuhan tetapi tidak otoritasnya untuk mengatur manusia adalah juga tidak rasional. Alasannya: (a) Pengingkaran atas otoritas itu telah melahirkan sikap manusia untuk membuat sendiri aturan bagi kehidupannya. Padahal manusia, sebagai makhluk, pada faktanya tidak bisa memahami hakikat dirinya sendiri. Yang tahu hakikat manusia adalah Pencipta-Nya, yakni Allah Swt. Apabila manusia tidak memahami hakikat dirinya sendiri, apalagi membuat aturan yang terbaik bagi dirinya. (b) Tuhan—dalam hal ini Allah Swt.—telah menurunkan wahyu-Nya, yakni al-Quran, melalui utusan (Rasul)-Nya untuk mengatur kehidupan manusia. Secara rasional, al-Quran dapat dibuktikan kebenarannya sebagai wahyu Allah. Karena itu, menjauhkan otoritas Tuhan Yang Mahatahu untuk mengatur kehidupan manusia adalah tidak rasional.
Adapun secara fitrah, manusia, ketika dibiarkan bebas membuat sendiri peraturan bagi kehidupannya, terbukti melahirkan banyak perbedaan, pertentangan, bahkan konflik. Peraturan yang dibuat juga sering berubah-ubah sesuai dengan kecenderungan dan hawa nafsu manusia. Lebih dari itu, fakta telah membuktikan bahwa peratuan–peraturan yang dibuat manusia—karena lebih didasarkan pada kecenderungan dan hawa nafsunya—telah melahirkan banyak ekses negatif, menciptakan banyak kerusakan, dan menimbulkan banyak kekacauan. Itulah yang terjadi seperti saat ini ketika hak membuat aturan/hukum diberikan kepada rakyat melalui mekanisme demokrasi.

3.      Islam.
Dalam perspektif akal, pengakuan terhadap eksistensi Tuhan sekaligus otoritas-Nya untuk mengatur kehidupan manusia adalah rasional. Alasannya: (a) Pada faktanya, di samping akal dapat membuktikan secara benar bahwa Tuhan sang Pencipta, yakni Allah Swt. itu ada, akal pun dapat membuktikan bahwa  Dia telah menurunkan wahyu-Nya berupa al-Quran kepada Rasul-Nya, yang kebenarannya sebagai wahyu bisa dibuktikan secara rasional. Di dalam al-Quran sendiri tidak akan ditemukan adanya pertentangan antar satu ayat dengan ayat lain, atau antar satu aturan dengan aturan lain, yang menunjukkan bahwa ia berasal dari Zat Yang Mahakuasa. (b) Sepanjang aturan-aturan al-Quran diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan manusia, terbukti bahwa ia mendatangkan rahmat bagi umat manusia seluruhnya. Ini adalah fakta sejarah yang pernah terjadi dan berjalan selama-berabad-abad sejak zaman Nabi saw. mendirikan Daulah Islamiyah di Madinah hingga keruntuhan Kekhilafahan Islam terakhir di Turki, yang diawali oleh banyaknya penyimpangan terhadap al-Quran yang dilakukan penguasa.
Adapun secara fitrah, pengakuan atas eksistensi Tuhan sekaligus otoritas-Nya untuk mengatur manusia sesuai dengan fitrah manusia yang serba terbatas, serba kurang, dan serba lemah; yang menjadikannya butuh pada yang lain. Keserbaterbatasan, keserbakurangan, dan keserbalemahan manusia ini pada faktanya membuktikan bahwa manusia membutuhkan berbagai peraturan bagi kehidupannya yang tidak berasal dari dirinya, tetapi bersumber dari  al-Khalik, Tuhan Pencipta alam.

Kesimpulan
            Walhasil, dari paparan di atas, secara nalar (rasio, akal) maupun fitrah, juga berdasarkan realitas sejarah manusia, terbukti bahwa hanya Islamlah satu-satunya ideologi yang rasional dan sesuai dengan fitrah manusia. Sebaliknya, Sosialisme-komunis dan Kapitalisme-sekular adalah ideologi yang tidak rasional dan bertentangan dengan fitrah manusia; di samping terbukti dalam sejarah telah menimbulkan banyak ekses negatif, kerusakan, dan kekacauan.
Karena itu, dalam momentum Idul Fitri ini, yang berarti kembali ke fitrah, sudah selayaknya kaum  Muslim segera kembali menerapkan semua aturan-aturan Islam (syariah), yang memang telah sesuai dengan fitrah manusia, dalam semua aspek kehidupan. Sebaliknya, sudah selayaknya kaum Muslim segera meninggalkan berbagai aturan yang berasal dari ideologi Sosialisme-komunis maupun Kapitalisme-sekular, yang nyata-nyata bertentangan dengan fitrah manusia, dan terbukti banyak menyengsarakan kehidupan umat manusia. Keengganan manusia untuk diatur dengan aturan-aturan Allah hanyalah merupakan bukti kesombongan, kelancangan, dan kekurangajaran dirinya  di hadapan Penciptanya, Allah Swt., Zat Yang Mahatahu atas segala sesuatu. Jika kita tetap bertahan untuk berkubang dalam  aturan-aturan buatan manusia dan tetap enggan diatur dengan aturan-aturan Allah, layaklah kita merenungkan kembali firman Allah Swt. berikut:

]أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ[
Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki. Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin?! (QS al-Maidah [5]: 50).

Ya, sekali ini kita patut merenungkan: Adakah hukum/aturan yang lebih baik dibandingkan dengan hukum/aturan-aturan Allah?! Apakah hukum/aturan-aturan yang berasal dari ideologi Sosialisme-komunis dan Kapitalisme-sekular—yang notabene buatan manusia yang serba terbatas, serba kurang, dan serba lemah—yang lebih baik ataukah hukum/aturan-aturan Islam yang notabene buatan Allah Pencipta manusia Yang Mahatahu atas segala sesuatu?!
Lalu mengapa kita tetap betah berkubang dalam sistem/aturan yang berasal dari Kapitalisme-sekular yang terbukti buruk ini dan tidak segera beranjak menuju sistem/aturan yang bersumber dari ideologi Islam sebagai ideologi penebar rahmat?! Telah butakah mata dan kalbu kita?! Na‘ûdzu billah mindzâlik! []   

Daftar Bacaan:

‘Abduh, Ghanim, 1963, Naqd al-Isytirâkiyah al-Marksiyah, t.p., Al-Quds.
Abdullah, Muhammad Husain, 1990, Dirâsât fî al-Fikr al-Islâmi, Darul Bayariq, Beirut.
An-Nabhani, Taqiyuddin, 1953, Nizhâm al-Islâm, t.p., al-Quds.
Ismail, Muhammad Muhammad,. 1958, Al-Fikr al- Islâmi, t.p, Kairo.
Lenin, Collected Works, Progress Publishers, Moscow, 1972. Cet. ke-3.


No comments